• 4
  • 1
  • 2
  • 33

Selamat Datang di Website MAN 1 BERPRESTASI KOTA SUNGAI PENUH. Terima Kasih Kunjungannya

Pencarian

Login Member

Username:
Password :

Kontak Kami


MAN 1 KOTA SUNGAI PENUH

NPSN : 10507912

Jl.Pelita IV Koto Lolo - Pesisir Bukit - Sungai Penuh - Jambi 37112


mansatusungaipenuh@kemenag.go.id

TLP : 082282895480


          

Banner

Jajak Pendapat

Bagaimana pendapat anda mengenai web Madrasah kami ?
Sangat bagus
Bagus
Kurang Bagus
  Lihat

Statistik


Total Hits : 10848
Pengunjung : 2329
Hari ini : 2
Hits hari ini : 26
Member Online : 29
IP : 54.234.65.78
Proxy : -
Browser : Opera Mini

Status Member

Apakah Aku Orang Yang “Berpikir” ?




Oleh: Yovanza Amilta

Kelas: XII MIA 2

 

Wahai saudaraku, yang membedakan kita manusia dengan makhluk Allah yang lain adalah akal. Allah memberi kita akal sehingga kita lebih mulia dengan hewan, tumbuhan dan makhluk lainnya.

 

            Akal yang diberikan kepada kita tentu harus kita gunakan seoptimal mungkin sebagai salah satu bentuk syukur kita atas nikmat akal yang sangat mulia ini. Mari kita  koreksi diri kita sendiri, apakah kita sudah menggunakan akal yang diberikan Allah untuk berpikir?

 

Untuk lebih detail lagi, kita harus tahu “apa itu berpikir?”.   

Berpikir adalah menggunakan akal budi untuk mempertimbangkan dan memutuskan sesuatu; menimbang-nimbang dalam ingatan.

 

            Jika kita orang yang berpikir, kita akan menjadi buta. Buta akan aib orang lain. Kita akan sibuk mengurus aib kita sendiri daripada aib orang lain. Kita akan merasa bodoh untuk mencari ataupun mengumbar aib ataupun kekurangan orang lain, karena kita sadar akan diri sendiri memiliki banyak kekurangan. Jika kita berpikir.

Kutipan pepatah tentang hal ini, “Gajah dipelupuk mata tak terlihat, semut diseberang lautan tampak jelas” apabila kita termasuk golongan orang yang dimaksud dalam pepatah ini, berarti kita harus memutar otak, membalikkan keadaan menjadi berpikir.

 

Apabila kita membicarakan seseorang, membuka aibnya ataupun mengumbar kekurangan dan keburukannya, kita sendiri yang menjadi rugi. Mengapa demikian? Karena, apabila yang kita katakan tentang seseorang itu salah, maka itu akan terjerumus dalam fitnah. Dan apabila yang kita katakan itu benar, maka akan tergolong pada ghibah. Kedua-duanya merugikan bagi orang yang tidak menggunakan akal budinya.

 

            Andai kita berpikir, kita tidak akan pernah sombong ataupun riya’.kita akan menjadi zuhud. Kita sadar bahwa tak ada yang patut untuk kita sombongkan. Ilmu yang kita punya tidak sebanding dengan ilmu para pendahulu kita. Harta yang banyak hanyalah titipan yang harus kita jaga dan akan diminta pertanggung jawabannya kelak hari akhir, kita tahu. Fisik yang gagah ataupun cantik hanyalah kerangka yang diberikan Allah untuk menutupi kotornya jantung kitadipenuhi dosa dan fisiki yang gagah taupun cantik itu akan larut dengan berjalannya waktu dalam masa tua. Kita sadar bahwa kita memiliki banyak kekurangan.

 

            Apabila kita termasuk orang yang berpikir, tentu kita tidak akan menghabiskan begitu saja nikmat yang paling banyak dilalaikan oleh manusia, yaitu nikmat waktu. Kita akan menggunakan waktu kita dengan hal-hal yang bermanfaat. kita akan sadar bahwa waktu sangat berharga. Kita tidak akan dibodohi oleh gadget hina, menghabiskan waktu dengan gadget kotor kita, dengan hal-hal yang tidak bermanfaat.

 

            Jika kita orang yang berpikir, kita tidak akan membiarkan kitab yang paling muliaal qur’an berdebu dan usang, membiarkan buku yang sudah kita beli terpojok dan kusam, ataupun buku tulis kita terabaikan dalam masa senggang.

 

            Begitupun dengan alam, kita akan merawat alam dengan sangat baik karena kita sadar bahwasanya kita yang membutuhkan alam, alam yang memberikan oksigen untuk kita hidup, alam juga yang memberikan sarana untuk mencari nafkah bagi orang tua, dan masih sangat banyak lagi yang diberikan alam kepada kita. Itu jikalau kita bisa mengarahkan akal budi kita kepada hal positif, sehingga kita bisa memberikan haknya alam.

 

            Jika kita orang yang berpikir, kita tidak akan menjadikan dunia tujuan hidup kita. Kita akan selalu menatap akhirat sebagai tujuan utama kita. Allah mengatakan dalam al qur’an surah al ankabut ayat 64 “bahwa dunia ini adalah senda gurau dan permainan belaka, Dan akhirat kehidupan yang nyata”. Dan begitupun kekasih Allah, manusia paling mulia, Rasulullah ﷺ mengatakan “dunia ini lebih buruk dari bangkai kambing yang cacat” (HR Muslim no.2957). Tentu, jika kita telah memprioritaskan akhirat didalam hidup kita, telah kita letakkan dunia tangan kita dan akhirat di hati kita, kita tahu bahwa dunia hanya tempat singgah saja, kita sadar bahwa dunia penjara bagi kita, sebagaimana qaul rasulullah ﷺ diriwayat imam muslim, bahwa dunia ini penjara bagi orang mukmin dan surga bagi orang kafir.

 

Kita merasa menjadi orang asing dibumi ini, telah kita rasakan hinanya dunia, telah kita cicipi buruknya kehidupan dunia, telah kita rasakan manisnya agama.

 

Jika kita telah merasakan hal-hal tersebut maka kita telah termasuk orang yang menggunakan akal budi dalam kehidupan ini.

 

            Sungguh, sangat banyak nikmat belum kita syukuri, telah banyak kesempatan yang kita sia-siakan, telah banyak hal yang membodohi kita, telah banyak cinta yang kita hilangkan, telah banyak bintik hitam dihati kita akibat dosa-dosa yang kita lakukan serta telah banyak kemaksiatan yang menyesatkan kita.

 

            Semoga tulisan ini dapat mengulas pikiran kita, dapat membuat otak kita berjalan sesuai dengan garis edarnya. Dan semoga tulisan ini dapat menyadarkan bahwa sangat sedikit ilmu yang kita punya dari ilmu-ilmu yang ada diatas dunia ini dan disisi Allah. Hanya secuil harta yang kita punya, dandapat mendekatkan kita pada sang pencipta.

 

Harapnya, tulisan ini bisa membuat kita tidak ceroboh, menimbang-nimbang sebelum mengambil keputusan, dan diharapkan tulisan ini mampu membalikkan keadaan kita yang sebelumnya menjadi lebih mulia lagi.

 

            Tulisan ini merupakan sedikit renungan dari penggalan ayat Al qur’an, yaitu afalaa ta’qiluun (apakah kalian tidak berpikir) yang sangat banyak diulang dalam kitab suci Al qur’an dan selalu terletak diakhir ayat, hal itu agar kita dapat mengambil hikmahnya.

 

            Mari koreksi dan benahi diri kita sendiri. Masih banyak waktu dalam memperbaiki dan meningkatkan segalanya, sebelum nyawa sampai dikerongkongan dan sebelum sangkakala ditiup mari kita upgrade segalah dalam hidup kita.

 

Sekarang berikan tanya dalam jiwa.. “Apakah aku telah termasuk orang yang berpikir atau sebaliknya?”.

 

 

 




Share This Post To :

Kembali ke Atas

Artikel Lainnya :




Silahkan Isi Komentar dari tulisan artikel diatas :

Nama :

E-mail :

Komentar :

          

Kode :


 

Komentar :


   Kembali ke Atas